Sesungguhnya Kebahagiaan, Kesusesan Hanya dalam Mentaati Perintah Allah SWT
Rabu, 05 September 2018
Kamis, 23 Agustus 2018
Do'a Dimudahkan Membayar Utang
Dari
Abu Sa’id al Khudri r.a. menceritakan, “Suatu hari Rasulullah saw. masuk masjid,
tiba-tiba beliu melihat seorang lelaki dari kaum Anshor, yaitu Abu Umamah. Lalu
Rasulullah saw. bertanya, “Wahai Abu umamah, aku melihat kamu duduk menyendiri
dalam masjid bukan pada waktu shalat, ada apa?” Abu umamah r.a. menjawab, “Wahai
Rasulullah! Saya sedang dirundung kesulitan dan utang. “Beliau saw. bersabda, “Maukah
aku ajarkan kepadamu suatu kalimat yang apabila engkau berdo’a dengannya,
niscaya Allah akan menghilangkan kesulitan dan dapat membayarkan utangmu?” Abu
umamah r.a. menjawab, “Silahkan, Wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Apabila
engkau berada pada pagi dan pada waktu petang, maka ucapkanlah do’a ini:
اَللّهُمَّ
اِنِّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
وَاَعُوْذُبِكَ
مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدِّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
‘’Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesediahan, aku berlindung
kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan
dan kebakhilan, dan aku berlindung kepada-Mu dari tertindas utang dan tekanan
orang lain.”
Abu
Umamah r.a. menceritakan, “Aku pun segera melakukan pesan tersebut dengan
mengucapkan doa itu setiap pagi dan petang, sehingga Allah menghilangkan
kesusahanku dan melunaskan utangku.” (Hr. Abu Dawud nomer 1555) di ambil dari kitab
Muntakhab ahadits)
Selasa, 21 Agustus 2018
DALIL DAKWAH WAT TABLIGH
Khuruj Fii Sabilillah...
Dalil-dali yang masih bersifat umum yg gunakan oleh jamaah tabligh/khuruj.
Maka kalo ada orang yang mengatakan mana dalil-dali
3 hari
40 hari dan
4 bulan
Ini dalilnya:
Menjadikan semua umat tau tentang perintah Allah buat kerja dakwah atas diri mereka.
Dalil-dalil 3 hari , 40 hari , 4 bulan..
Kisah Nabi Zakaria a.s diperintahkan Allah swt tidak berbicara kepada manusia, tentang perkara dunia kecuali membicarakan kebesaran-kebesaran Allah dan berzikir sebanyak-banyaknya selama TIGA HARI.
(Sila baca QS Ali Imran : 41)
Rasulullah saw mengutus Abdurrahman bin Auf r.hu ke Dumah al Jandal untuk berdakwah selama TIGA HARI.
(HR Darul Qutni)
Rasulullah saw mengutus Khalid bin al-Walid r.hu ke Najran kepada Bani Harits untuk menyeru kepada Islam selama TIGA HARI.
Dakwah Salman Al Farisi r.hu selama TIGA HARI ke istana-istana putih Persia.
(HR Bukhari)
Ketika tentera meminta Salman r.hu menyerang , Salman r.hu berkata..
"Biarlah aku mengurusnya..! Aku akan mendakwahkan Islam kepada mereka terlebih dahulu TIGA HARI sebagaimana yang aku ketahui dari Rasulullah saw..!"
Rasulullah saw menawan dan menahan orang kafir di sekitar masjid agar orang kafir melihat amalan orang Islam di masjid selama TIGA HARI.
(HR sahih Bukhari jilid 2 bab Maghazi)
Kisah Sumamah bin Aufal r.hu yang ditahan di masjid TIGA HARI lalu dapat hidayah Islam.
4 0 H A R I
Kisah Nabi Musa a.s dari al-Quran surah Al A'raf ayat 142.
"Dan kami telah menjanjikan kepada Musa a.s petunjuk, dari Taurat, sesudah berlaku 30 MALAM..!
Dan Kami sempurnakan waktu yang telah ditetapkan dengan 10 malam..! Maka genaplah dari Tuhannya , Allah swt selama 40 MALAM..!"
(Nabi Musa a.s diperintahkan hanya beribadah dan membesarkan Allah di Bukit Tursina)
(Disebutkan juga dalam Al-quran surah al Baqarah ayat 51)
Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab r.hu dan Umar r.hu pun bertanya , "Dari mana engkau..?"
Laki-laki itu menjawab , "Dari Ribat selama 30 hari..!" (Buat dakwah)
Umar r.hu berkata , "Mengapa tidak kau cukupkan 40 HARI..?"
Rasulullah saw ada bersabda , "Siapa yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama 40 HARI akan zahir sumber-sumber hikmah dalam hati melalui lidahnya..!" (lisannya)
4 B U L A N
Umar r.hu bertanya kepada Hafsah r.ha ketika Para Sahabat r.hum diperintahkan berdakwah dan berperang..
"Berapa lama wanita mampu berpisah dari suaminya..?"
Hafsah r.ha dengan malu-malu menjawab 4-6 bulan.
Lalu Umar r.a mengirim surat kepada amir rombongan agar tidak menahan rombongannya lebih dari 4 BULAN.
(Dua bulan untuk perjalanan pergi balik)
(HR Baihaqi jilid IX m/s 29)
Rasulullah saw mengeluarkan 25 jama'ah ke seluruh dunia dengan jumlah 10,000 orang , 1000 orang , 500 orang , 15 orang , 7 orang untuk keluar dakwah 6 bulan , 4 bulan , 3 bulan , 2 bulan , 15 hari , 3 hari.
(Dari Kitab Sirah Nubuwah)
6 B U L A N
Rasulullah saw mengutus Khalid bin al-Walid r.hu ke Yaman untuk berdakwah. Barra r.hu meriwayatkan , "Aku ikut bersama Khalid al-Walid r.hu di Yaman selama 6 bulan."
(HR Bukhari, Baihaqi, Bidayan dan Nihayah)
Tidak ada yang tidak bermakna dari angka-angka yang disebutkan Allah swt dalam kalam-Nya al Quran atau dalam hadis Rasulullah saw.
Setiap hari meluangkan hanya 10% dari waktu kita untuk berdakwah, bercakap, membicarakan kebesaran Allah 2.5 jam saja boss..!
ingat 10% saja maka pasti kita jaya simak sabda nabi MUHAMMAD SAW.
Dari Abu hurairah Rasulullah saw bersabda Sesungguhnya kalian (wahai sahabtku) berada dalam zaman jika di antara kalian meninggalkan 10% dari yg di perintahkan oleh Allah swt maka ia akan binasa Kemudian akan datang suatu zaman di mana jika salah seorang di antara mereka mengamalkan agama 10% dari yg di perintahkan oleh Allah maka dia akan berjaya (sukses).
Hr. Tirmidzi (faidul qadir).
Dalam kisah Nabi Ibrahim a.s berdakwah selama 13 tahun meninggalkan anak isterinya.
124,000 Para Sahabat r.hum dihantar oleh Rasulullah saw ke seluruh alam untuk menyebarkan agama dan sebahagian besar tidak pulang. Mereka berdakwah sampai mati..!
(HR Ibnu Hibban)
By. Hasyim Al Asy Ari salem.
Dalil-dali yang masih bersifat umum yg gunakan oleh jamaah tabligh/khuruj.
Maka kalo ada orang yang mengatakan mana dalil-dali
3 hari
40 hari dan
4 bulan
Ini dalilnya:
Menjadikan semua umat tau tentang perintah Allah buat kerja dakwah atas diri mereka.
Dalil-dalil 3 hari , 40 hari , 4 bulan..
Kisah Nabi Zakaria a.s diperintahkan Allah swt tidak berbicara kepada manusia, tentang perkara dunia kecuali membicarakan kebesaran-kebesaran Allah dan berzikir sebanyak-banyaknya selama TIGA HARI.
(Sila baca QS Ali Imran : 41)
Rasulullah saw mengutus Abdurrahman bin Auf r.hu ke Dumah al Jandal untuk berdakwah selama TIGA HARI.
(HR Darul Qutni)
Rasulullah saw mengutus Khalid bin al-Walid r.hu ke Najran kepada Bani Harits untuk menyeru kepada Islam selama TIGA HARI.
Dakwah Salman Al Farisi r.hu selama TIGA HARI ke istana-istana putih Persia.
(HR Bukhari)
Ketika tentera meminta Salman r.hu menyerang , Salman r.hu berkata..
"Biarlah aku mengurusnya..! Aku akan mendakwahkan Islam kepada mereka terlebih dahulu TIGA HARI sebagaimana yang aku ketahui dari Rasulullah saw..!"
Rasulullah saw menawan dan menahan orang kafir di sekitar masjid agar orang kafir melihat amalan orang Islam di masjid selama TIGA HARI.
(HR sahih Bukhari jilid 2 bab Maghazi)
Kisah Sumamah bin Aufal r.hu yang ditahan di masjid TIGA HARI lalu dapat hidayah Islam.
4 0 H A R I
Kisah Nabi Musa a.s dari al-Quran surah Al A'raf ayat 142.
"Dan kami telah menjanjikan kepada Musa a.s petunjuk, dari Taurat, sesudah berlaku 30 MALAM..!
Dan Kami sempurnakan waktu yang telah ditetapkan dengan 10 malam..! Maka genaplah dari Tuhannya , Allah swt selama 40 MALAM..!"
(Nabi Musa a.s diperintahkan hanya beribadah dan membesarkan Allah di Bukit Tursina)
(Disebutkan juga dalam Al-quran surah al Baqarah ayat 51)
Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab r.hu dan Umar r.hu pun bertanya , "Dari mana engkau..?"
Laki-laki itu menjawab , "Dari Ribat selama 30 hari..!" (Buat dakwah)
Umar r.hu berkata , "Mengapa tidak kau cukupkan 40 HARI..?"
Rasulullah saw ada bersabda , "Siapa yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama 40 HARI akan zahir sumber-sumber hikmah dalam hati melalui lidahnya..!" (lisannya)
4 B U L A N
Umar r.hu bertanya kepada Hafsah r.ha ketika Para Sahabat r.hum diperintahkan berdakwah dan berperang..
"Berapa lama wanita mampu berpisah dari suaminya..?"
Hafsah r.ha dengan malu-malu menjawab 4-6 bulan.
Lalu Umar r.a mengirim surat kepada amir rombongan agar tidak menahan rombongannya lebih dari 4 BULAN.
(Dua bulan untuk perjalanan pergi balik)
(HR Baihaqi jilid IX m/s 29)
Rasulullah saw mengeluarkan 25 jama'ah ke seluruh dunia dengan jumlah 10,000 orang , 1000 orang , 500 orang , 15 orang , 7 orang untuk keluar dakwah 6 bulan , 4 bulan , 3 bulan , 2 bulan , 15 hari , 3 hari.
(Dari Kitab Sirah Nubuwah)
6 B U L A N
Rasulullah saw mengutus Khalid bin al-Walid r.hu ke Yaman untuk berdakwah. Barra r.hu meriwayatkan , "Aku ikut bersama Khalid al-Walid r.hu di Yaman selama 6 bulan."
(HR Bukhari, Baihaqi, Bidayan dan Nihayah)
Tidak ada yang tidak bermakna dari angka-angka yang disebutkan Allah swt dalam kalam-Nya al Quran atau dalam hadis Rasulullah saw.
Setiap hari meluangkan hanya 10% dari waktu kita untuk berdakwah, bercakap, membicarakan kebesaran Allah 2.5 jam saja boss..!
ingat 10% saja maka pasti kita jaya simak sabda nabi MUHAMMAD SAW.
Dari Abu hurairah Rasulullah saw bersabda Sesungguhnya kalian (wahai sahabtku) berada dalam zaman jika di antara kalian meninggalkan 10% dari yg di perintahkan oleh Allah swt maka ia akan binasa Kemudian akan datang suatu zaman di mana jika salah seorang di antara mereka mengamalkan agama 10% dari yg di perintahkan oleh Allah maka dia akan berjaya (sukses).
Hr. Tirmidzi (faidul qadir).
Dalam kisah Nabi Ibrahim a.s berdakwah selama 13 tahun meninggalkan anak isterinya.
124,000 Para Sahabat r.hum dihantar oleh Rasulullah saw ke seluruh alam untuk menyebarkan agama dan sebahagian besar tidak pulang. Mereka berdakwah sampai mati..!
(HR Ibnu Hibban)
By. Hasyim Al Asy Ari salem.
Jumat, 10 Agustus 2018
MENJAGA ADAP
Nasehat Alm. KH. 'Uzairon At Thoifuri Abdillah Rahimahullah.
"Sholat di masjid itu
penting. Tapi adab di dalam masjid itu lebih penting. Sholat itu penting. Namun
adab di dalam sholat itu lebih penting. Membaca Al-Qur'an itu penting.
Namun adab membaca Al Qur'an itu lebih penting. Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya.
Namun adab membaca Al Qur'an itu lebih penting. Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya.
Sebagaimana ada seseorang
yang ingin memberikan hadiah besar kepada raja namun dengan pakaian yang tidak
sopan, dengan tangan kiri. Tentu saja raja akan marah dan menolak hadiah
tersebut karena hakikatnya raja tidak perlu pemberian.
Namun sebaliknya walaupun
pemberiaan yang kecil namun dengan adab yang baik akan membuat seorang raja
senang dan menerima pemberian tersebut walaupun hakikatnya raja tidak perlu
dengan pemberian tersebut.
Adab adalah mengagungkan
segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Al Fatih, panglima besar
penakluk Konstantinopel (Istanbul) tidak lepas karena orang tuanya sangat
memuliakan adab. Dikisahkan, orang tuanya tidak pernah duduk apabila di rumahnya
ada Al-Qur'an. Dalam kitab Ihya', seseorang yang menghormati ahli dunia lebih
daripada orang akhirat maka anaknya tidak akan pernah jadi anak sholeh apalagi
menjadi ulama.
Raja Romawi mendapatkan
keberkahan karena adab. Ketika dikirim surat oleh Baginda Rasulullah Sallallahu
'Alaihi Wa sallam dia menjaga surat dan menyimpannya, maka Baginda Rasulullah
Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata bahwa kerajaan Romawi (Eropa) tidak akan
runtuh sampai hari kiamat.
Sebaliknya Raja Persia ketika
dikirimi surat oleh Baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menyobek dan
membuangnya, maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata, kerajaan dia
akan runtuh. Maka runtuhlah kerajaan Persia.
Dengan adab amal kecil akan
bernilai besar. Dan sebaliknya, tanpa adab amal besar bisa tidak bernilai.
Semoga kita bisa menjaga
adab-adab dalam setiap amal perbuatan kita. Dan semoga hari-hari kita diberkahi
oleh Allah dengan adab. Amin.
Wassalam
Sabtu, 21 Juli 2018
Curhat Seorang Da,i
"Ustadz, dulu Ana semangat dalam Dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan Ana melihat ternyata banyak pula yang aneh-aneh."
Begitu keluh kesah seorang Da'I kepada ustadznya di suatu hari.
Sang Ustadz hanya terdiam, mencoba menggali semua kecamuk dalam diri Da'i tsb
"Lalu, apa yang ingin Antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang ustadz setelah sesaat termenung.
"Ana ingin berhenti saja, keluar dari jamaah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa teman yang justru tidak Islami muamalah, muasyarah & akhlak mereka.. Juga dengan jamaah Dakwah yang Ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja..." jawab Da'i itu.
Sang ustadz termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.
"Akhi, bila suatu kali Antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan Antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?"
tanya sang Ustadz dengan kiasan bermakna dalam.
Sang Da'i terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah Antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" Sang ustadz mencoba memberi opsi.
"Bila Antum terjun ke laut, sesaat Antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan Antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana Antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana Antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan Da'i.
Tak ayal, Sang Da'i menangis tersedu-sedu tak mampu ia menahan air matanya. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun Sang ustadz yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
"Akhi, apakah Antum masih merasa bahwa jalan Dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa Sang Da'i. Ia hanya mengangguk.
Sang Da'i tetap terdiam dan tertunduk dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, "Cukup Ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan Ana. Ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata Ana diperhatikan..."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam Dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan Ana kelak dengan janji-janji-Nya.
Biarlah segala kepedihan yang Ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa Ana", Sang Da'i berazzam di hadapan ustadz yang semakin dihormatinya utk tetap berdakwah walau apaun yg terjadi.
Sang ustadz tersenyum.
"Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berDakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan Antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata Antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap Dakwah selama ini.
Sang Da'i termenung merenungi setiap kalimat ustadznya. Dia tdk kuasa menahan air matanya, akhirnya dia menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap istiqamah dakwah bersama jama'ah dalam mengarungi jalan Dakwah.
Bersedia semua tetap istiqomah di jalan Dakwah ini sampe mati.....insya Allah.......
❤❤❤❤
Begitu keluh kesah seorang Da'I kepada ustadznya di suatu hari.
Sang Ustadz hanya terdiam, mencoba menggali semua kecamuk dalam diri Da'i tsb
"Lalu, apa yang ingin Antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang ustadz setelah sesaat termenung.
"Ana ingin berhenti saja, keluar dari jamaah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa teman yang justru tidak Islami muamalah, muasyarah & akhlak mereka.. Juga dengan jamaah Dakwah yang Ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja..." jawab Da'i itu.
Sang ustadz termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.
"Akhi, bila suatu kali Antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan Antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?"
tanya sang Ustadz dengan kiasan bermakna dalam.
Sang Da'i terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah Antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" Sang ustadz mencoba memberi opsi.
"Bila Antum terjun ke laut, sesaat Antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan Antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana Antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana Antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan Da'i.
Tak ayal, Sang Da'i menangis tersedu-sedu tak mampu ia menahan air matanya. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun Sang ustadz yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
"Akhi, apakah Antum masih merasa bahwa jalan Dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa Sang Da'i. Ia hanya mengangguk.
Sang Da'i tetap terdiam dan tertunduk dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, "Cukup Ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan Ana. Ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata Ana diperhatikan..."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam Dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan Ana kelak dengan janji-janji-Nya.
Biarlah segala kepedihan yang Ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa Ana", Sang Da'i berazzam di hadapan ustadz yang semakin dihormatinya utk tetap berdakwah walau apaun yg terjadi.
Sang ustadz tersenyum.
"Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berDakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan Antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata Antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap Dakwah selama ini.
Sang Da'i termenung merenungi setiap kalimat ustadznya. Dia tdk kuasa menahan air matanya, akhirnya dia menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap istiqamah dakwah bersama jama'ah dalam mengarungi jalan Dakwah.
Bersedia semua tetap istiqomah di jalan Dakwah ini sampe mati.....insya Allah.......
❤❤❤❤
Kamis, 19 Juli 2018
Meninggal Keluarga Sementara Untuk Agama
BUKAN HANYA 3 HARI-40 HARI-4 BULAN ATAUPUN 1 TAHUN TETAPI 30 TAHUN MENINGGALKAN ISTRI DAN ANAKNYA UNTUK AGAMA.
Lelaki berumur enam puluh tahun itu memasuki rumahnya di Madinah. Nyaris tak mengenali lagi rumah yang pernah ditinggalinya itu. Ia menemukan rumah itu, saat menyusuri jalan-jalan di kota Madinah, yang sudah ramai.
Rumahnya yang sangat sederhana itu, pintunya agak terbuka, dan nampak lengang. Lelaki itu meninggalkan rumahnya, tiga puluh tahun lalu, dan waktu itu isterinya masih belia, dan menjelang melahirkan anak pertamanya.
Lelaki tua itu meninggalkan Madinah pergi berjihad ke negeri yang sangat jauh. Ia berangkat bersama pasukan muslimin. Membuka Bukhara dan Samarkand, dan sekitarnya, yang terletak di Asia Tengah. Begitu jauh perjalanan jihad bersama pasukan muslimin, mengarungi samudera padang pasir, menembus perjalanan beribu-ribu mil dari kota Madinah. Sungguh sangat luar biasa para mujahidin itu. Kepergiannya dengan tekad dan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla.
Menjelang Isya’ dengan kuda yang ditungganginya itu, prajurit tua itu, memasuki kota Madinah, yang masih ramai, dan melihat kehidupan yang tidak berubah, sesudah ditinggalkannya selama tiga puluh tahun.
Namun, ingatannya yang tajam, akhirnya lelaki tua itu, menemukan rumahnya kembali, yang masih tampak sederhana, dan didapati pintunya sedikit terbuka.
Kegembiraan menggelayut, dan merasa yakin bertemu dengan kembali dengan isterinya yang lama ditinggalkan itu.
Si penghuni rumah melihat ada orang yang masuk rumahnya, maka lelaki yang ada di atas, langsung melompat, dan turun sambil membentak lelaki tua yang datang itu, “Engkau berani memasuki rumah dan menodai kehormatanku malam-malam, wahai musuh Allah?”.
Si penghuni rumah mencengkeram leher lelaki tua, seraya mengatakan,
“Wahai musuh Allah, demi Allah aku takkan melepaskanmu kecuali di muka hakim”, sergahnya.
Lelaki tua yang baru datang itu berkata,
“Aku bukan musuh Allah dan bukan penjahat.
Ini rumah milikku, kudapati pintunya terbuka lalu aku masuk”.
Lelaki tua itu melanjutkan,
“Wahai saudara-saudara, dengarkanlah.
Rumah ini milikku, kubeli dengan uangku.
Wahai kaum, aku adalah Farrukh.
Tiadakah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahun lalu pergi berjihad fi sabilillah?”
Bersamaan itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur itu bangun oleh keributan, lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya sendiri.
Lidahnya nyaris tak berucap. Dengan nada yang kuat ia berseru,
“Lepaskan .. lepaskan dia, Rabiah … lepaskan dia, putraku, dia adalah ayahmu .. dia ayahmu …
Saudara-saudara sekalian tinggalkan mereka, semoga Allah memberkahi kalian. Tenanglah, Abu Abdirrahman, dia putramu .. dua putramu .. jantung hatimu …
Lalu, Ar-Rabi’ah mencium tangan ayahnya.
Orang-orang meninggalkan keduanya.
Setelah itu, isterinya Ummu Rabi’ah menyambut suaminya dan memberi salam.
Ummu Rabi’ah tak mengira bahwa ia akan bertemu kembali dengan suaminya yang pergi berjihad selama tiga puluh tahun itu.
Saat-saat bahagia antara Farrukh dengan Ummu Rabi’ah, terkadang duduk berdua, sambil bercerita keduanya selama berpisah tiga puluh tahun. Mereka mendapatkan kebahagiaan kembali, keduanya dapat bertemu, meskipun sekarang suaminya telah berumur enam puluh tahun. Namun, saat itu muncul kekawatiran dari Ummu Rabi’ah tentang uang yang pernah dititipkan oleh suaminya dahulu, dan ia harus menjaganya.
Karena uang yang dititipkan suaminya itu, habis untuk membiayai pendidikan putranya senilai 30.000 dinar. “Percayakah Farrukh bahwa pendidikan putranya itu menghabiskan 30.000 dinar”, gumam Ummu Rabi’ah.
Selagi pikirannya mengelayut itu, tiba-tiba Farrukh, yang duduk disampingnya itu berkata,
“Aku membawa uang 4.000 dinar.
Ambillah uang yang aku titipkan kepadamu dahulu. Kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah, dan akan kita ambil sewanya”,
ucap Farrukh kepada Ummu Rabi’ah.
Pembicaraan terputus saat adzan datang. Farrukh bergegas menuju masjid, seraya menanyakan,
“Mana Ar-Rabi’ah?’
Isterinya menjawab,
“Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid.
Saya kira engkau akan tertinggal shalat berjama’ah”. Dia segera shalat, dan sesudah itu pergi ke Rhaudah mutharah, berdo’a di dekat makam Rasulullah, karena betapa rindunya dia dengan Rasulullah.
Saat mau meninggalkan masjid, begitu ramai orang yang sedang mengelilingi seorang ulama, yang belum pernah melihat sebelumnya. Mereka duduk melingkari Sheikh itu. Sampai tak ada tempat yang kosong untuk dapat berjalan.
Farrukh mengamati, ternyata orang-orang yang hadir, ada yang sudah lanjut usia, anak-anak muda, mereka semua duduk sambil menghamparkan lututnya.
Semuanya menghadapkan pandangan kepada Sheikh.
Farrukh itu berusaha melihat wajah Sheikh yang luar biasa itu, tetapi tak dapat, karena begitu banyaknya orang yang mengelilinginya.
Sampai saat majelis itu usai. Orang-orang meninggalkan masjid. Kemudian di tengah-tengah suasana yang sudah mulai sepi itu Farrukh bertanya kepada salah seorang yang masih tinggal di masjid itu.
Farrukh:
“Siapakah Sheikh yang baru saja berceramah itu?”
Fulan:
“Apakah anda bukan penduduk Madinah?”
Farrukh:
“Saya penduduk Madinah”.
Fulan:
“Masih adakah di Madinah ini orang yang tak mengenal Sheikh yang memberikan ceramah itu?”
Farrukh:
“Maaf, saya benar-benar tidak tahu, karena saya sudah meninggalkan kota ini sejak 30 tahun yang lalu, dan baru kemarin tiba”
Fulan:
“Tidak apa. Duduklah sejenak, saya akan menjelaskannya. Sheikh yang anda dengarkan ceramahnya itu adalah seorang tokoh tabi’in. Termasuk diantara ulama yang paling terpandang, dialah ahli hadist di Madinah, fuqaha dan imam kami, meksipun masih sangat muda”.
Majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah, An-Nu’man, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Sufyan Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-Auza’I, Laits bin Sa’id dan lainnya”.
Farrukh:
“Tetapi anda belum menyebutkan namanya?”
Fulan:
“Namanya adalah Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi”.
Farrukh:
“Namanya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi?”
Fulan:
“Nama aslinya Ar-Rabi’ah, tetapi para ulama dan pemuka Madinah biasa memanggilnya Ar-Rabi’ah Ar-Ra’yi. Karena setiap menjumpai kesulitan tentang nash dari Kitabullah yang tidak jelas, mereka selalu bertanya kepadanya”.
Farrukh:
“Anda belum menyebutkan nasabnya?”
Fulan:
“Dia adalah Ar-Rabi’ah putra Farrukh yang memiliki kunyah (julukan) Abu Abdurrahman. Tak lama dilahirkan setelah ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid fi sabilillah, lalu ibunya memelihara dan mendidiknya. Tetapi sebelum shalat tadi orang-orang ramai mengatakan ayahnya telah datang kemarin malam.”
Tiba-tiba meleleh air mata Farrukh, tanpa lawan bicaranya mengerti mengapa Farrukh melelehkan air matanya.
Sesampai di rumah isterinya Ummu Rabi’ah melihat suaminya meneteskan air matanya, dan bertanya kepada suaminya,
isterinya :
“Ada apa wahai Abu Abdirrahman?”
Suaminya menjawab :
“Tidak ada apa-apa. Aku melihat putraku berada dalam kedudukan itu dan kehormatan yang tinggi, yang tidak kulihat pada orang lain”, tukasnya.
Di ujung kehidupan itu, Ummu Rabi’ah bertanya kepada suaminya,
“Menurutmu manakah yang lebih engkau sukai, uang 30.000 dinar, atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”.
Farrukh menjawab :
“Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya”, ucapnya.
Begitulah kisah generasi Tabi’in yang penuh kemuliaan, dan peranan seorang ibu yang ditinggal oleh suaminya berjihad ke negeri yang sangat jauh, selama tiga puluh tahun, dan dapat mendidik putranya menjadi seorang ulama besar dan memiliki ilmu dan kehormatan yaitu Ar-Rabi’ah.
Wallahu’alam.
Subhanallah ...
Langganan:
Postingan (Atom)

